-

Sabtu, 21 April 2012

Remaja Korban Cyberbully Berisiko Alami Gangguan Mental

Jakarta [zonaterkini] - Sekilas cyberbully dianggap hal wajar. Tapi jika itu terjadi pada anak remaja jangan diremehkan. Sebab, hal itu bisa memicu gangguan kesehatan mental. Dalam jurnal Archives of General Psychiatry disebutkan, korban cyberbully usia remaja lebih banyak mengalami problem psikis dan fisik sekaligus.

Cyberbully didefinisikan sebagai serangan agresif, insensif, yang terjadi berulangkali melalui telepon seluler, komputer atau media elektronik lain, dan korban tidak dapat membela dirinya sendiri. Dalam sebuah survei di Amerika pada anak remaja usia 10-17 tahun, sebanyak 12 persen mengaku pernah berlaku agresif terhadap orang lain secara online. Sementara 4 persen menjadi target serangan, dan 3 persen pernah menyerang sekaligus menjadi korban.

Ada beberapa perbedaan antara cyberbully dengan bully atau serangan di dunia nyata. Jika bully di dunia nyata si korban bisa membela diri dengan lari, mengelak, atau membalas. Tidak demikian dengan cyberbully. Maka cyberbully disebut lebih meninggalkan luka psikis lebih parah daripada bully biasa.

Seorang korban cyberbully sulit mengelakkan diri dari sasaran. Sebab, dilakukan secara tidak langsung. Ia bisa terus menerus diserang melalui ponsel atau komputernya secara online. Bahkan ketika ia memutuskan hubungan dengan peranti itu, serangan masih terus berlangsung, dan disaksikan publik, jika si penyerang melakukannya di media sosial atau forum online. Korban akan mendapat kabar tidak sedap, dicap buruk oleh teman-teman online yang mengetahui serangan itu. Jika penyerangnya melakukan secara anonim, maka korban sulit untuk membalasnya.

Andre Sourander dari Turku University, Turku, Finland, dan timnya menyebarkan kuesioner ke 2438 orang remaja Finlandia berusia antara 13-16 tahun. Sebanyak 90,9 persen dari mereka mengembalikan kuesioner tersebut. Sebanyak 4,8 persen mengaku pernah menjadi korban cyberbully, 7,4 persen melakukan cyberbully, dan 5,4 persen mengalami keduanya sekaligus.

Remaja yang menjadi korban cyberbully mengaku mengalami masalah emosi, sulit berkonsentrasi, berperilaku, dan bergaul dengan orang lain. Mereka juga menderita sulit tidur, sering sakit kepala, merasa tidak aman di sekolah. Sementara pelaku cyberbully hampir mengalami gejala serupa, ditambah dengan kebiasaan merokok dan minum minuman keras.

“Perasaan tidak aman pada korban cyberbully lebih parah dibandingkan dengan bully yang terjadi di dunia nyata. Pada bully nyata, korban merasa aman ketika sudah sampai di rumah, tapi korban cyberbully merasa terancam terus menerus,” tulis hasil studi tersebut.

Mereka merekomendasikan agar para pembuat kebijakan, kalangan pendidik, orang tua, serta para remaja sendiri lebih mewaspadai pengaruh berbahaya dari cyberbully yang makin marak terjadi. (ScienceDaily.Com/ internetsehat/DOR)

sumber : Metrotvnews.com
Artikel Terkait
My Popularity (by popuri.us)
Internet Blogs Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetSex Free Porn Video Porno
Internet Blogs bloglog
Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks

PESAN DARI PENGUNJUNG

 

Ingin Berlangganan. Ketik email Anda di Bawah Ini:

Delivered by FeedBurner

Mau Web Kamu Kebanjiran Duit?