-

Sabtu, 19 Februari 2011

Sepekan Berlalu, Ibu-ibu Rawasari Tetap Jahit Mulut

foto: detikNews
Jakarta [zonterkom] - Dua benang itu sudah sepekan lebih memaksa mulut Lusi (53) untuk terus tertutup. Dengan bekas darah kering, benang itu menjahit secara vertikal di bagian kanan dan kiri bibirnya. Lusi tak sendiri. Eet (45), juga melakukan aksi serupa. Kini keduanya tengah terkulai lemas.

Lusi dan Eet adalah ibu-ibu warga korban penggusuran di RT 16 RW 09, Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Awalnya, aksi yang dimulai 11 Februari lalu ini diikuti empat ibu-ibu. Namun kemarin Mak Buyung (56) dan Ardinah (55), sudah dilarikan ke RS UKI karena rekomendasi dokter.

"Padahal mereka merasa masih kuat," kata Ida (42), warga yang mendampingi Lusi dan Eet di sebuah bedeng di pinggir Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, Sabtu (19/2/2011).

Di belakang bedeng 3x2 meter itu juga terdapat dua tenda yang merupakan posko Rakyat Rawasari Menggugat, tempat warga lain menginap. Di belakang posko adalah gerbang utama sebuah apartemen yang masih dalam tahap pembangunan.

Warga protes karena merasa dibohongi oleh Pemprov DKI Jakarta terkait pembangunan apartemen itu. "Kami merasa dikibuli," kata Toib, juru bicara warga.

Toib menuding Gubernur DKI Fauzi Bowo (Foke) telah membohongi mereka karena lahan bekas tempat tinggal mereka, yang digusur 10 Februari 2008 lalu, sudah dijadikan pintu gerbang sebuah apartemen. Padahal, katanya, alasan Pemprov DKI saat menggusur adalah ingin menjadikan lahan seluas kurang lebih 1 hektar itu sebagai Ruang Terbuka Hijau.

"Lihat plang Ruang Terbuka Hijau dan prasasti penghijauan masih ada di sana," kata Toib menunjuk papan besi dan batu yang mengapit pintu gerbang apartemen. Prasasti tertanggal 6 Maret 2009 itu ditandatangani Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni.

Toib mengakui warga RT 16 RW 09 yang menjadi korban penggusuran memang tidak memiliki sertifikat tanah. Namun, menurutnya, warga membayar Pajak Bumi dan Bangunan setiap tahunnya. Lahan sebelumnya sudah ditempati warga selama 30-an tahun.

"Sertifikat seharusnya ditanyakan kepada Lurah dan Camat. Ngapain nggak keluarkan sertifitkat, kok ada pajaknya. Warga disuruh bayar pajak, ya mau aja," kata Toib menambahkan sebagian besar harta benda warga juga ludes saat penggusuran.

Toib dan perwakilan ribuan warga yang sudah terpencar di penjuru ibukota menyatakan tetap bertahan sampai ganti rugi dipenuhi. "Kami akan tetap bertahan," tegasnya. (detikNews)



Artikel Terkait
My Popularity (by popuri.us)
Internet Blogs Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetSex Free Porn Video Porno
Internet Blogs bloglog
Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks

PESAN DARI PENGUNJUNG

 

Ingin Berlangganan. Ketik email Anda di Bawah Ini:

Delivered by FeedBurner

Mau Web Kamu Kebanjiran Duit?