-

Selasa, 21 Februari 2012

Dituduh Korupsi, Presiden Jerman Mundur

Itulah yang ditempuh Presiden Jerman Christian Wulff. Ia memutuskan meletakkan jabatan karena dituduh menerima fasilitas berlibur gratis dari jutawan Jerman saat menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Bagian Lower Saxony pada tahun 2008.

Presiden Wulff sempat mencoba bertahan atas tekanan, khususnya pemberitaan yang gencar mengenai tindakan tidak pantas yang dilakukannya. Wulff bahkan sempat lepas kendali dan mengancam Harian "Bild" yang terus mendesak dirinya untuk mundur.

Namun Wulff akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak mungkin terus bertahan. Memudarnya kepercayaan masyarakat kepada dirinya membuat ia tidak mungkin menjalankan tugas sebagai Kepala Negara Jerman. Meski hanya sebagai simbol tetapi jabatan Presiden penting untuk melengkapi kehidupan berbangsa ahdan bernegara di Jerman.

Dalam pidato pengunduran dirinya, Wulff mengatakan bahwa ia memilih mundur karena ia tidak cukup hanya didukung oleh mayoritas partai, tetapi sebagai Presiden membutuhkan dukungan mayoritas. Ia menyadari bahwa dirinya kini tidak lagi mendapatkan dukungan itu dari rakyat Jerman.

Kasus mundurnya Wulff menarik untuk menjadi pembelajaran bagi para politisi di Indonesia. Betapa persoalan integritas merupakan sesuatu yang sangat penting dimiliki oleh setiap orang yang memilih menjadi politisi.

Ketika integritas kita dipertanyakan oleh rakyat, maka tidak ada jalan kecuali tahu diri untuk mundur dari gelanggang. Sikap untuk tetap bertahan pada profesinya merupakan sesuatu yang percuma karena masyarakat sudah tidak lagi mempercayai keberadaan kita.

Memang kita menjadi tidak bisa mengerti tentang prinsip berpolitik yang dijalankan para politisi kita. Mereka hanya menjadikan politik sebagai identitas dan panggung untuk mendapatkan kehormatan. Tetapi mereka tidak pernah menyadari bahwa di balik kehormatan ada tanggung jawab yang besar, noblesse oblige.

Bahkan sekarang ini melihat kehormatan yang dimiliki sebagai politisi dipakai sebagai alat untuk meraih kekayaan. Mereka menyalahgunakan kehormatan yang dimiliki untuk memperkaya diri sendiri.

Mereka pun tidak memiliki rasa malu ketika tercium menyalahgunakan kekuasaan mereka. Pemberitaan berkaitan korupsi yang mereka laku tetap saja membuat mereka bergeming. Bahkan tanpa malu-malu masih saja mau bercokol sebagai anggota parlemen.

Satu yang membuat kita sedih, tindakan seperti itu dilindungi oleh partai dan pimpinan partai. Dengan menggunakan dalih asas praduga tidak bersalah dan legal formal, tidak ada keinginan untuk menegakkan etika dan mendahulukan etika politik di atas persoalan hukum.

Kita lihat saja kasus yang sedang dihadapi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Angelina Sondakh. Yang bersangkutan jelas-jelas sudah dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena terlibat dalam korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI. Tetapi apakah dirinya dan juga partai segera mengambil langkah sportif atas pelanggaran etika yang ia lakukan?

Sama sekali kita tidak melihatnya. Angie--demikian ia biasa dipanggil--sama sekali tidak merasa bersalah dan kehilangan kepercayaan di mata masyarakat. Partai Demokrat pun tidak mencopot yang bersangkutan dari jabatannya. Bahkan Angie sempat dirotasi dari Komisi X ke Komisi III DPR, padahal komisi itu adalah komisi yang menangani persoalan hukum.

Tanpa ada niatan dari kita semua untuk menjalankan cara berpolitik yang bermartabat dan beretika, maka kita tidak pernah akan mampu membangun demokrasi seperti yang seharusnya. Kita akan terus terjebak pada demokrasi prosedural yang tidak akan bisa memberi arti bagi perbaikan kehidupan masyarakat.

Kalau media massa memberikan porsi khusus dari mundurnya Presiden Jerman Christian Wulff karena kita ingin membangun demokrasi yang lebih baik. Demokrasi yang diisi oleh orang-orang yang paham bahwa mereka harus menjadi contoh dalam menegakkan integritas.

Kita akan terpuruk semakin dalam apabila politik hanya diisi oleh para petualang. Mereka hanya sekadar mengejar status sebagai politisi, namun tidak pernah mau sportif untuk mengakui kesalahan yang dilakukan. Padahal rakyat sudah muak dengan tingkah laku tidak pantas yang mereka pertontonkan.

Negeri ini sangat membutuhkan hadirnya politisi yang bermoral. Politisi yang tahu bahwa pilar utama dari keberadaannya adalah kepercayaan dari rakyat. Ketika kepercayaan itu sudah hilang, sebenarnya ia tidak pantas menyatakan dirinya sebagai politisi yang bekerja untuk kepentingan rakyat.

sumber : metrotvnews.com
Artikel Terkait
My Popularity (by popuri.us)
Internet Blogs Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetSex Free Porn Video Porno
Internet Blogs bloglog
Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks

PESAN DARI PENGUNJUNG

 

Ingin Berlangganan. Ketik email Anda di Bawah Ini:

Delivered by FeedBurner

Mau Web Kamu Kebanjiran Duit?