-

Minggu, 31 Juli 2011

Kombinasi Ideal Ramadhan dan Kemerdekaan untuk Kemenangan Islam

Selayang Pandang [zonaterkni] - "Ramadhan" adalah bulan suci dan disucikan yang pada hakekatnya merupakan momentum pembebasan. Kehadirannya selalu disambut dengan gegap gempita oleh umat Islam seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia.

Ramadhan kini harus diwarnai dengan semangat untuk mendorong dan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik dan lebih bermartabat. Sejarah islam membuktikan bahwasanya banyak kemenangan yang pernah diraih umat islam di seluruhdunia yang terjadi saat bulan ramdhan, misalnya:

1. Perang BadarAl-Kubra tanggal 17 Ramadhan 2 H (Januari 624 M). Menurut Ibnu Hisyam,perang ini merupakan    kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umatIslam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan.

2. Perang Tabuk (Ramadhan 9 H) dan datangnya utusan Raja Himyar ke Madinah untuk menyatakan kemasukan Islam

3. Penyebaran Islam ke Yaman di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib (Ramadhan 10 H)

4. Kemenangan tentara Islam di Pulau Rhodes (Ramadhan 53 H)

5. Pendaratan pasukan Islam di Pantai Andalusia Spanyol (Ramadhan 91 H)

6. Kemenangan Panglima Thariq bin Zaid atas Raja Frederick dalam Perang Fashillah (Ramadhan 92 H)

7. 10 Ramadhan 8 H (Januari 630 M), terjadi peristiwa penaklukkan KotaMakkah (Futuh Makkah) juga penghancuran      berhala-berhala di sekitarKa’bah di Masjid Haram.

8. Ramadhan 584 H, Salahuddin Al-Ayyubi,mendapat kemenangan besar.. Tentera Islam menguasai daerah-daerah    yangsebelumnya dikuasai oleh tentera Salib dan menguasai Benteng Shafadyang kuat

.9. Pada Ramadhan 658 H, Kerajaan Tartar hancur danpasukannya ditahan di pintu gerbang Mesir di kota ‘Ain Jalut (Tentera Tartar sebelumnya telah menguasai sebagian wilayah Islam)Hubungan Kemenangan Islam dengan Kemerdekaan Dalamkonteks keindonesiaan, puasa Ramadhan ini mempunyai hubungan historis dengan momentum kemerdekaan RI. Sejarah pernah mencatat saat momentum kemerdekaan RI yang tak berselang lama dengan puasa Ramadhan, dimana kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 1945 bertepatan pada tanggal 9 ramadhan 1365 H.

Seolah kita diingatkan oleh sejarah kembali bahwa, dalam konteks Indonesia, antara proklamasi 17 Agustus dengan puasa Ramadhan mempunyai hubungan makna yang erat meskipun saat itu minim persenjataan bak perang badar yang hanya memilki tentara 313 orang. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa makna yang menghubungkan kedua momen itu? Ya.. yang jelas adalah kemerdekaan atau kebebasan.

Baik 17 Agustus maupun puasa Ramadhan, dalam konteks Indonesia, adalah dua momentum yang bertemu pada satu titik yaknikemerdekaan. Hanya saja kontek kemerdekaan yang terkandung di dalamnyaberbeda. Untuk tujuh belas Agustus, yang merupakan momen terlepasnyabangsa Indonesia dari cengkraman kaum kolonial, adalah cermin darikemerdekaan fisik. Kemerdekaan dalam konteks ini lebih diorientasikan bagaimana kita tidak lagi ditindas dan dijajah oleh bangsa asing,bagaimana kekayaan alam kita tidak lagi dikuras oleh bangsa penjajah,bagaimana rakyat Indonesia bisa sejahtera, mempunyai papan, sandang dan pangan yang layak dan seterusnya.

Semua itu adalah cermin darikemerdekaan fisik. Meskipun sampai sekarang kemerdekaan itu masihbersifat prosedural dan belum menyentuh pada dimensi substansialnya.Sejalandengan momentum di atas, puasa Ramadhan pada hakekatnya juga mencerminkan semangat kemerdekaan. Namun kemerdekaan yang diusung olehpuasa adalah kemerdekaan jiwa, ruh dan mental-spiritual.

Puasa pada hakekatnya adalah kekuatan pembebas (liberating power) dari belenggupenjajahan. Bentuk penjajahan dalam konteks puasa ini adalah hal-halyang masuk dalam kategori penyakit ruhani, misalnya suka berbohong,berkhianat, suka korupsi, suka maling, arogan, sombong, mau menangsendiri, anarkis, suka bertindak sewenang-wenang dan sebagainya.

Tujuanpuasa tidak lain adalah membebaskan jiwa atau hati (qolb) kita daripenyakit-penyakit ruhani itu, Karena dengan terjajahnya hati daripenyakit-penyakit tersebut bisa menjadikan diri seseorang berjalantidak tabil dan kacau. Kekacauan diri ini berimplikasi pada kekacauansistem dalam masyarakat, bangsa dan negara. Karena sebuah masyarakat,bangsa dan negara dibangun oleh individu-individu di dalamnya.

Atasdasar ini kita tahu bahwa semrawutnya kondisi negara dan tatananpolitik kita sekarang ini adalah karena sistem yang ada dikendalikanoleh individu-individu yang kacau. Aturan main dan etika yang ada didalamnya dipegang oleh para politikus yang berakhlak kurang baik. Dengan demikian, bisa diambil hikmah bahwa hadirnya Ramadhan yang bersanding erat dengan momentum 17 Agustus tersebut, merupakan seruan kepada bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan yang kaffah, kemerdekaan yang sempurna dan holistik.

Kemerdekaan fisik yang telah diraih yang juga harus disempurnakan dengan kemerdekaan ruhani.
“Tolonglah saudaramudalam kondisi dzalim maupun didzalimi” (HR. Bukhari no:2263),kemerdekaan ini juga sejatinya adalah milik setiap bangsa termasuk Palestina, karena bangsa tersebut kini sedang dikepung oleh zionis yang zalim,yang berusaha merampas tanah Palestina, padahal kita tahu di sanaterdapat Masjid ketiga Umat islam Masjidil Aqsho, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid ini merupakan kiblat pertama umat Islamselama 16 bulan setelah hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah Almunawwarah.

Di sisi lain bagi bangsa Indonesia, Palestina adalahNegara yang pertama kali mengakui kedaulatan Indonesia. Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (mufti besarPalestina) secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia. Pada 6September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’mufti besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jermanpada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan’pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya itu, bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Soekarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Allah berfirman ”Sesungguh nyaorang-orang yang beriman tak lain adalah saudara”.(QS. Al-Hujurat:10),untuk itu kita harus sentiasa mendoakan saudara kita dan yang palingpenting adalah berkontribusi untuk kemajuan agama, bangsa, dan negaradi manapun kita berada agar sucinya ramadhan dan semangat kemerdekaan bangsa bukan retorika semata tapi merupakan usaha untuk kembali kepadakemandirian kebebasan & kemerdekaan. Wallahu a’lam bisshawab….
Dikutip dari: Akhir Pebriansyah INTP’44
Artikel Terkait
My Popularity (by popuri.us)
Internet Blogs Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetSex Free Porn Video Porno
Internet Blogs bloglog
Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks

PESAN DARI PENGUNJUNG

 

Ingin Berlangganan. Ketik email Anda di Bawah Ini:

Delivered by FeedBurner

Mau Web Kamu Kebanjiran Duit?