-

Kamis, 02 Juni 2011

Dua Oknum Dishub Yang Ditahan Mengaku Sering Dianiaya

Heri Sastriawan (Kanan) dan Adi Putra (Kiri/ kaos hitam)
Tembilahan [zonterkom] - Pasca peristiwa perkelahian antara Tim Dishub Kominfo Inhil melawan Tim Futsal Polres Inhil saat berlaga dalam turnamen Futsal di Lapangan Futsal Pondok Indragiri Tembilahan Inhil-Riau senin lalu (23/5/11), hingga kini masih menyisakan kesedihan yang mendalam bagi keluarga Adi Putra dan Heri Sastriawan sang oknum pegawai Dishub Kominfo Inhil.

Bagaimana tidak, peristiwa perkelahian yang ironisnya terjadi dan telah pula diselesaikan diarena lapangan olah raga futsal  itu, ternyata malah berbuntut panjang hingga terpaksa kedua oknum pegawai Dishub Inhil itu harus rela mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Mapolres Inhil.

Parahnya lagi, menurut pengakuan kedua oknum Dishub Inhil yang terkhir diketahui telah berstatus sebagai tersangka ini, selama mendekam di Rutan Mapolres Inhil mereka sering mengalami aksi kekerasan dan aksi penganiayaan yang terbilang tidak manusiawi oleh sejumlah oknum polisi Polres Inhil.

Bahkan pada hari pertama mereka ditahan, sekitar pukul 03.00 Wib dini hari mereka disiksa habis-habisan, hingga akhirnya Adi Putra yang tak tahan sempat pingsan dan tak sadarkan diri, sementara akibat dipukuli di bagian muka, kondisi wajah Heri Sastriawan ke esok hari nya terlihat bengkak dan lebam-lebam. 

Kepada wartawan keluarga kedua oknum dishub mengaku telah sempat melakukan upaya utnuk berdamai dengan pihak keluarga Bripda Petrus, sang oknum polisi yang diduga menjadi korban pemukulan oleh kedua oknum dishub tersebut, namun etikat baik pihak oknum Dishub tak direspon dan upaya tersebut akhirnya hanya menemukan jalan buntu.

Menurut keterangan polisi, akibat dari peristiwa perkelahian yang terjadi diarena lapangan olah raga futsal  Pondok Indragiri itu , Briptu Petrus, sang oknum polisi yang dipukul jadi mengalami cedera dan mengalami pendarahan di bagian telinganya. Dan menurut polisi,  Adi Putra dan Heri Sastriawan lah pelaku yang telah memukul Petrus.

Hingga akhirnya Senin malam (23/5/11), kedua oknum Dishub Inhil itu di jemput dan dibawa polisi ke Mapolres Inhil. Dan dari penyidikan yang dilakukan polisi malam itu juga akhirnya kedua oknum Dishub Inhil itu  ditahan. Paranya lagi kini malah keduanya juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Meski sempat ditolak setelah mengajukan permohonan penangguhan penahan atas kedua oknum Dishub yang ditahan itu, akhirnya dengan didampingi pengacaranya pihak keluarga kembali mengajukan permohonan ke Mapolres Inhil, dan permohonan berupa olah visum terhadap kedua oknum dishub kerumah sakit pun akhirnya di kabulkan pihak polisi.

Dan dengan pengawalan ketat sejumlah polisi, Selasa sore (31/5) sekira pukul 17.30 Wib Adi Putra dan Heri Sastriawan pun tiba di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan, guna untuk dilakukan visum. Namun ironisnya olah visum yang dilakukan dokter terhadap dua oknum dishub tersebut ternyata hanya bersifat visum luar saja.

Tak cukup aksi keras di dalam sel, saat berada di rumah sakit pun sang oknum dishub masih diinterfensi. Pasalnya saat pihak keluarga Adi Putra meminta dokter melakukan sinar X (Rontgen) kepada Adi, seorang komandan polisi yang berada dilkoasi langsung melarang dan menyampaikan larangan nya itu kepada dokter yang bertugas, agar tidak melakukan rontgen kepada Adi. 

Akibat dari larangan keras yang disampaikan oknum polisi itu, Adi Putra yang sedianya menjalani Rontgen akhirnya sempat terbiar didalam ruangan Radiologi RSUD Puri Husada Tembilahan lantaran tidak satupun petugas yang mau merontgen nya. Dan tragisnya lagi, akhirnya rontgen atas dir Adi pun terpaksa dibatalkan. 

“Mereka ini kan statusnya tahanan, jadi apapun bentuk visum yang akan dilakukan prosedurnya harus berdasarkan persetujuan dari kami. Dan tolong siapapun dari mereka jangan ada yang rontgen, cepat panggil dan bawa mereka kemari” tegas sang komandan polisi kepada sejumlah anggotanya yang mengawal olah visum tersebut.

Akibatnya sempat terjadi perang mulut antara pihak keluarga oknum dishub dengan  sang komnadan polisi. Kepada polisi pihak keluarga sampaikan protesnya dan menanyakan apa alasan polisi melarang dilakukan nya rontgen, padahal keluarga Adi sangat ingin tau tentang bagaimana kondisi keadaan tubuh Adi pasca dirinya disiksa hingga pingsan saat pertama dirinya mendekam dalam sel.

 “Malam itu seingat saya sekitar pukul 03.00 dini hari, saya dikeluarkan dari sel dan dibawa ke area yang tidak terpantau oleh cctv. Nah saat itulah sejumlah petugas memukuli dan menginjak-injak kepala saya hingga akhirnya saya pingsan” tutur Adi menceritakan pegalamannya kepada sejumlah wartawan yang mengerumuninya, usai dirinya menjalani visum luar di RSUD Puri Husada Tembilahan.

Sementara itu, meski akhirnya seorang oknum polisi menegur dan melarikan nya dari kerumanan waratwan yang sedang asyik mendengarkan keluh kesahnya, dengan wajah yang masih tampak syok Heri Sastriawan juga sempat menceritakan aksi kekerasan yang telah dialaminya saat dirinya berada di dalam sel rutan Mapolres Inhil.

“Saya tidak dapat mengenal merka dan juga tidak ingat berapa jumlah mereka, yang jelas malam itu saya dipukuli oleh beberpa orang secara bergantian (dikeroyok.red)” ujar Heri.

Saat sedangasyik berkeluh kesah dengan wartawan, tiba-tiba sang komandan polisi menegur Heri dan langsung memerintahkan dua orang anggota membawa Heri agar menjauhi wartawan.

“Eh, kamu dibawa kemari bukan untuk wawancara tapi untuk diperiksa. Siapa yang mengijinkan kamu wawancara” tegas sang komandan polisi kepada Heri sambil dia menyuruh dua anggota nya langsung membawa Heri jauh dari waratawan.

Padahal,  beberapa waktu lalu ketika sedang mengikuti kegiatan latihan menembak di Makodim 0314/ Inhil, kepada waratwan Kapolres Inhil, AKBP Tri Julianto Djatiutomo, sik sempat mengatakan secara tegas, bahwa tidak benar jika ada berita yang mengatakan anggotanya telah menyiksa dan menganiaya kedua Oknum Dishub yang di tahan. Malah dalam wawancaranya Kapolres juga sempat menyampaikan bahwa jika benar ada penyiksaan yang dilakukan anggotanya, dia berjanji akan segera memproses siapapun anggota nya itu.

Dan atas pernyataan yang sudah dilontarkan Kapolres tersebut, selasa sore (01/6) saat olah visum di rumah sakit, kedua oknum dishub yang bersangkutan telah menjawabnya. Kepada waratawan kedua sang  oknum dishub secara lugas membenarkan bahwa benar telah terjadi aksi penyiksaan yang mereka alami dari sejumlah petugas polisi selama mereka ditahan di sel rutan Mapolres Inhil.

Terlepas apakah Kapolres Inhil benar-benar seruis akan memenuhi pernyataanya yakni akan memproses anggotanya yang melakukan aksi kekerasan terhadap tahanan, paling tidak disinilah nilai-nilai kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan diperhitungkan. Yang pasti  kita tau, selama ini pada hakikatnya polisi itu adalah merupakan petugas yang menjadi pengayom dan  pelindung bagi masyarakat, dan bukan petugas yang menyiksa masyarakat.

Sementara, terkait pihak keluarga yang sudah melaporkan kasus kekerasan yang telah dialami kedua tahanan sang oknum dishub, Wakapolres Inhil, Kompol Imran Amir Sik, ketika dihubungi wartawan melalui telpon genggamnya, mengaku belum mengetahuinya.

“Saat ini kita masih perlu mengecek, kira-kira sejauh mana kebenaran hal itu. Kita tunggu ajalah” tukasnya singkat.  (**dri.ztc)
Artikel Terkait
My Popularity (by popuri.us)
Internet Blogs Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetSex Free Porn Video Porno
Internet Blogs bloglog
Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks

PESAN DARI PENGUNJUNG

 

Ingin Berlangganan. Ketik email Anda di Bawah Ini:

Delivered by FeedBurner

Mau Web Kamu Kebanjiran Duit?